Dari antipati menjadi cinta

masjid

Banyak orang yang bekerja dengan diam-diam. Seperti warga Indonesia di London yang bernama Arif ini. Ini bukan nama sebenarnya, karena kami yakin, ia tidak ingin namanya dikenal. Tulisan ini adalah hasil perenungan anggota pengajian rutin yang ia bina.

***

Saya merindukan azan yang lantang keluar dari masjid, seperti yang biasa saya dengar di daerah Kebayoran lama, Jakarta. Azan mengingatkan saya untuk salat. Azan mengingatkan saya kepada Allah.

Di London ini tidak ada azan yang lantang seperti di Kebayoran lama. Tak ada yang mengingatkan duhur, asar, atau magrib telah tiba. Kesibukan kantor membuat satu dua kali saya lupa dengan salat. Apalagi tidak ada musala di kantor saya.

Ini membuat saya gelisah.

Berat ternyata tinggal di Inggris. Sementara teman-teman saya, mereka sepertinya tidak peduli dengan salat. Saya tahu mereka Muslim, tapi saya tak pernah melihat mereka salat. Saya tahu mereka Muslim, tapi kaleng bir ada di tas mereka.

Saya merasa jauh dengan Allah.

Hingga kemudian saya berkenalan dengan seseorang. Sebut saja namanya Arif. Dari perkenalan ini saya tahu ia rutin mengadakan pengajian dua mingguan di rumahnya. Arif meminta saya datang.

Ada sekitar lima atau enam orang yang datang di pengajian Arif ini. Kami belajar membaca Quran, mengkaji ayat dan hadis. Juga bagaimana dulu Nabi Muhammad menyebarkan Islam.

Dari pengajian ini saya tahu ternyata Arif juga sering mengisi di pengajian-pengajian lain di beberapa kota di Inggris. Ia meninggalkan rumahnya Sabtu malam, tiba di kota tujuan Ahad pagi, mengisi pengajian di Ahad siang, dan kembali lagi pada Ahad sore.

Saya merasa sangat beruntung dipertemukan dengan Arif.

Darinya saya merasa rasa ke-Islam-an saya makin tebal. Bacaan Quran saya makin lancar, pengetahuan ayat Quran dan hadis makin banyak, dan saya bisa menikmati indahnya salat.

Saya merasa modal saya hidup di negeri dengan mayoritas penduduk non-Muslim makin besar. Saya pernah mendengar seorang ustadz yang mengatakan, “Di Indonesia, lawan yang kita hadapi adalah Elly Pical. Tapi di London, yang kita hadapi adalah Mike Tyson.”

Elly Pical dan Mike Tyson adalah petinju. Bedanya yang satu kelas ringan, satunya lagi kelas berat. Artinya tantangan bagi seorang Muslim di negara seperti Inggris jauh lebih berat.

Belakangan saya tahu ternyata Arif ini kader PKS.

Saya terus terang tidak suka dengan partai. Bagi saya, orang-orang yang menjalankan partai adalah orang-orang yang sibuk membela kepentingan mereka sendiri. Saya tidak melihat mereka bekerja untuk kepentingan rakyat. Di mata saya, politisi yang melakukan korupsi atau memperkaya diri sendiri bukan hal yang luar biasa. Bukankah mereka bekerja untuk mereka sendiri?

Arif mengubah persepsi saya tentang partai.

Ternyata ada kader partai yang bekerja secara suka rela demi orang banyak. Ada ternyata, kader yang rajin datang ke berbagai pengajian, membina umat, meski saya tahu kegiatan semacam ini tidak ringan.

Keluar rumah pagi-pagi di tengah suhu udara yang membeku untuk mengejar bus atau kereta pertama, agar bisa tiba di kota tujuan tepat waktu. Kadang ia harus berada di bus semalaman.

Yang mungkin agak aneh, Arif tak pernah meminta kami mencoblos PKS. Seingat saya, dalam pengajian rutin kami, ia tidak pernah menyebut nama PKS.

Orang Inggris mengatakan, “Action speaks louder than the words.” Aksi nyata lebih bermakna dari deretan kata-kata.

Kerja nyatanya untuk umat membuat kami jatuh cinta.

Dan saya yakin banyak sekali Arif-Arif lain di berbagai negara. Apalagi di Indonesia…

 

2 Comments

1 Trackback / Pingback

  1. “Di London, Aku Berubah Setelah Bertemu Kader PKS” – DPD PKS Kota Medan

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*