Cerita Salim Segaf Al Jufri soal Upaya Hilangkan Stigma PKS Radikal dan Wahabi

JAKARTA — Partai Keadilan Sejahtera mendorong penokohan Salim Segaf Al Jufri sebagai salah satu figur nasional. Keputusan menokohkan Ketua Majelis Syura PKS itu diambil dalam dalam musyawarah Majelis Syura IV pada 30 Juni 2021.

“Mereka pilih saya secara pribadi. Di PKS apa pun yang diputuskan oleh Majelis Syura ya kami siap semua,” kata Salim Segaf dalam wawancara dengan Tempo di kantor DPP PKS, Jakarta Selatan, Kamis, 9 September 2021.

Salim mengatakan ada sejumlah tujuan dari penokohan ini. Pertama, ia menyebut sudah keniscayaan setiap partai memunculkan tokohnya untuk ikut dalam kepemimpinan nasional.

Tokoh nasional tersebut ini nantinya akan tampil berbicara mengenai isu-isu strategis. Dengan begitu, PKS berharap partai akan lebih dikenal hingga ke daerah-daerah.

Tujuan penokohan berikutnya ialah untuk menghilangkan stigma radikal dan wahabi yang melekat kepada PKS. Salim menjelaskan, isu radikal dan wahabi ini sudah lama dikaitkan dengan partainya.

“Ini menyelesaikannya tidak mudah, isu wahabi hampir 15 tahun saya menjadi ketua Majelis Syura masih ada,” ujar Salim.

Salim mengatakan stigma itu biasanya muncul dari keberadaan tokoh tertentu. Menurut Salim, stigma tersebut dilekatkan agar masyarakat tak memilih PKS.

Ia menilai perlu pendekatan kepada publik luas termasuk para tokoh masyarakat untuk mengklarifikasi stigma itu. Salim mengklaim, anggapan yang berdampak negatif kepada partai itu kini sudah mulai memudar.

“Saya ketika keliling sudah mulai enggak ada. Ini kan perlu kerja, silaturahim, dialog, diskusi. Memang ketika ketemu dibilang ‘PKS ini serius, tapi ketika ngobrol ada juga candanya’,” kata Salim bercerita.

PKS, Salim melanjutkan, terkadang juga dianggap sebagai partai yang eksklusif. Menteri Sosial Kabinet Indonesia Bersatu II atau di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ini mengaku menemui berbagai kalangan, mulai dari tokoh nasional, kiai atau ajengan, pengusaha, bahkan masyarakat nonmuslim.

Kepada mereka, Salim menjelaskan bahwa PKS merupakan partai bagi semua kalangan. “Penampilan-penampilan semacam ini penting dengan munculnya penokohan tadi,” ujar Salim.

Politikus kelahiran Solo, 17 Juli 1954 ini mengakui salah satu efek yang diharapkan yakni meningkatnya suara partai. Ia mencontohkan, di beberapa daerah PKS tak mendapatkan kursi Dewan Perwakilan Rakyat karena perolehan suaranya rendah.

Menurut Salim, PKS menilai ini imbas dari tidak dikenalnya partai atau stigma radikal serta wahabi yang melekat kepada mereka. “Jadi dengan penokohan tadi semakin dikenalkanlah partai ini dan membersihkan dari stigma-stigma tadi,” ujar Salim.

Salah satu cara Salim menghilangkan stigma tersebut ialah dengan mengenalkan kakeknya, Sayyid Idrus bin Salim Al Jufrie, penyiar Islam yang juga mendirikan sekolah-sekolah di Indonesia bagian timur. Sayyid Idrus menciptakan bait-bait syair tentang 17 Agustus 1945 dan merah putih.

Salim mengatakan, menurut cerita yang dia dapat, kakeknya berdialog dengan pendiri Nahdlatul Ulama Hasyim Asy’ari pada masa menjelang proklamasi kemerdekaan Indonesia. Sayyid Idrus, kata Salim, juga mendukung Bung Karno serta menyatakan kesiapan mendengarkan para pemimpin.

Nama Sayyid Idrus bin Salim Al Jufrie diabadikan menjadi nama bandar udara di Palu, Sulawesi Tengah, tepatnya Bandara Mutiara SIS Al-Jufrie. Menurut Salim Segaf, kakeknya tinggal setahap lagi ditetapkan menjadi pahlawan nasional. Semua persyaratan untuk itu disebutnya sudah lengkap.

“Mau dibilang radikal bagaimana?” kata Salim Segaf. “Kadang-kadang kita hidup ini dikenal dengan kakek dan orang tua, kan begitu. Itu upaya, lah, untuk menghilangkan stigma.”

Sumber: Tempo

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*